Lima
abad lalu penduduk di sekitar Danau
Texcoco, Meksiko, memiliki kebiasaan
menyantap camilan biskuit setiap hari.
Namun, bukan sembarang biskuit yang
dilahap. Biskuit yang disebut tecuitlatl
itu dibuat dari ganggang biru kehijauan
yang diperoleh dari kedalaman danau.
Karena rajin memakan biskuit itu penduduk
Danau Texcoco jarang sakit.
Nun
di Danau Chad, Afrika, penduduk Kanembu
pun sehat-sehat. Setelah diselidiki
mereka diketahui sering mengkonsumsi
dihe. Penganan mirip kue kering itu
dibuat dari spirulina. Penduduk mengumpulkannya
dengan kelambu pada musim panas saat
terjadi booming spirulina di danau.
Suku Aztec malah sudah sejak lama memanfaatkan
spirulina untuk memperbaiki gizi mereka,
ujar Prof Dr Ir Ali Khomsan, MS, guru
besar Gizi Masyarakat dan Sumberdaya
Keluarga, Institut Pertanian Bogor.
Menurut
Ali, spirulina bisa memperbaiki gizi
karena ia mengandung 70% protein. Asam-asam
amino yang terkandung di dalamnya berperan
memperbaiki sel-sel rusak dan meningkatkan
sistem imun tubuh. Karena itu sejak
lama spirulina sudah dimanfaatkan manusia,
ujarnya.
Asam
amino esensial
Protein
dalam spirulina tersusun dari asam amino
esensial yang tidak dimiliki tubuh seperti
valin dan isoleosin. Padahal, asam amino
itu berperan mengganti protein yang
rusak. Konsumsi spirulina 36 g per hari
sudah bisa mencukupi kebutuhan asam
amino bagi tubuh orang dewasa, ujar
Prof Dr dr Alfred A Djajakusumah, ahli
biokimia kedokteran Universitas Padjadjaran,
Bandung.
Bukti
serupa diungkapkan Clare M. Hasler,
PhD dari Department of Food Science
and Human Nutrition, University of Illinois,
di Amerika Serikat. Clare menyebutkan
susunan protein spirulina berguna memperkuat
struktur dan fungsi sel-sel makhluk
hidup. Itu karena spirulina mengandung
zat proteinogenik yang berfungsi sebagai
sistem pengatur metabolisme tubuh. Sedikitnya
setiap 10 g spirulina yang dikonsumsi
memberikan kontribusi protein setara
5,5-7 g bagi tubuh, ujar Ali Khomsan.
Berdasarkan
hasil uji coba J.E Pinero Estrada dari
Departemen Farmakologi, Universitas
Madrid di Spanyol, spirulina diketahui
kaya antioksidan karena kandungan beberapa
pigmen pembentuk protein seperti phykosianin,
zeasantin, dan klorofi l. Phykosianin
merupakan antioksidan pelindung hati
dan ginjal. Zeasantin melindungi mata
terutama saat berusia lanjut. Klorofi
l bersifat antikanker dan antiracun.
Antioksidan
Ganggang
biru kehijauan itu juga memiliki vitamin
dan mineral yang lengkap. Spirulina
termasuk satu-satunya tumbuhan yang
mengandung vitamin B kompleks terlengkap:
B1, B2, B3, B6, dan B12. Setiap 10 g
spirulina mengandung vitamin B1 (thiamin)
0,31 mg, B2 (riboflavin) 0,35 mg, B3
(niacin) 1,46 mg, B6 (pyridoxine) 80
mcg, dan B12 (cobalamine) 32 mcg.
Peran
vitamin B sangat penting. Misal vitamin
B12, membantu pembentukan sel darah
merah, sumsum tulang, dan memperbaiki
sistem saraf. Vitamin B12 juga dapat
mengurangi risiko serangan jantung dan
stroke. Vitamin B12 merupakan koenzim
yang penting untuk sintesis DNA dalam
mengontrol pembentukan sel-sel baru,
ujar doktor ilmu home economics education
dari Iowa State University di Amerika
Serikat itu.
Vitamin
A dan betakaroten yang demikian tinggi
di dalam spirulina-23.000 IU per 10
g-memiliki fungsi sebagai antioksidan.
Kandungan betakaroten dalam spirulina
mencapai 10 kali lipat lebih banyak
daripada lobak dan wortel, ujar Ali
Khomsan. Mereka dapat mencegah kanker,
menjaga kesehatan sel-sel tubuh, dan
memperbaiki fungsi mata. Peran lain
sebagai tembok penghalang berkembangnya
tumor ganas dan perubahan kromosom.
Menurut
Ali Khomsan, vitamin A, D, B12, betakaroten,
dan mineral yang dimiliki spirulina
mempunyai peranan penting dalam pembentukan
tulang. Vitamin D bersama kalsium dapat
memperkuat tulang dan gigi. Hasil penelitian
Carlos Jime'nez dari Department
of Ecology, University of Malaga
di Spanyol Menunjukkan kalsium selain
mengeraskan tulang, juga berfungsi meningkatkan
sistem kekebalan tubuh.
C. Wayne
Weart dari Department of Pharmacy,
University of South Carolina di
Amerika Serikat mengungkap mineral lain
yang terkandung dalam spirulina seperti
magnesium, zink, selenium, dan zat besi
memiliki peran tak kalah penting. Zink
misalnya membantu memastikan fungsi-fungsi
enzim di tubuh berjalan sempurna. Yang
lain seperti selenium mampu mencegah
gondok. Zat besi pada spirulina 58 kali
lebih banyak daripada bayam dan 18 kali
lebih tinggi dari daging, ujar Ali Khomsan.
Zat besi itu selain ikut membantu pembentukan
darah juga menguatkan sistem imun.
Karena
kandungan yang luar biasa itu, spirulina
dijadikan suplemen kesehatan. Ia disebut-sebut
sebagai makanan abad 21. Paling tidak
12 penghargaan dari badan-badan pangan
dan kesehatan dunia disematkan kepada
yang namanya spirulina. Pantas saja
berjuta-juta pil spirulina telah diproduksi
untuk membantu masyarakat yang malnutrisi
dan untuk mengatasi berbagai penyakit.
(Hermansyah)
| Protein
spirulina dibandingkan komoditas
lain |
| Nutrisi |
Kandungan
(%DV) |
| Vitamin A |
460 |
| Betakaroten |
460 |
| Vitamin B-12 |
330 |
| Vitamin D |
300 |
| Zat besi |
80 |
| Selenium |
14 |
| Magnesium |
10 |
| Seng |
2 |
| Nutrisi
spirulina dalam persentase
angka kecukupan konsumsi per
10 g |
| Makanan |
Kandungan
protein (%) |
| Spirulina |
60-70 |
| Kacang kedelai |
30-35 |
| Daging lembu |
18-22 |
| Ikan |
16-20 |
| Telur |
12-16 |
| Tahu |
8 |
| Susu |
3 |
Sumber:
Sureco muhibah network, http://www.spirulina.com/, dan
telah diolah dari berbagai sumber.