|
Tumor
lambung itu datang dengan
isyarat ruam-ruam merah
di permukaan kulit Retno
Dewi Kurniati yang putih.
Demam kemudian mengiringinya.
Ia menduga itu gejala
serangan cacar air. Namun,
4 jam berselang, kerongkongan
perempuan 41 tahun itu
seperti tersumbat. Betapa
sulitnya bernapas saat
itu. Ia merasa maut menjemput
sehingga dengan terbata-bata
meminta maaf kepada suami.
Mendengar kata-kata sang
istri, Danu Ismedi-suami
Retno-hanya tertegun.
Saya mengira istri saya
terkena serangan jantung,
kenang Danu.
Tak tega
melihat penderitaan istri,
keesokan harinya Danu
bergegas membawa Retno
ke dokter. Saran dokter,
agar Retno diperiksa di
Rumahsakit Mitra Internasional,
Jatinegara, Jakarta Timur.
Namun sebelumnya, ibu
dua anak itu mesti dirontgen
dan cek darah.
Di rumahsakit
rujukan, dokter spesialis
penyakit dalam memeriksa
hasil tes darah dan rontgen.
Kesimpulan dokter: tak
ada masalah pada jantung
Retno. Dokter menduga,
ia hanya menderita gastroartritis
alias radang lambung.
Oleh sebab itu, Retno
hanya diberi resep obat
untuk mengurangi mual
dan kembung seperti yang
diberikan pada penderita
maag.
Endoskopi
Semakin
hari derita Retno kian
bertambah. Selain sesak
napas yang semakin kerap
kambuh, perutnya juga
membuncit. Di kantor,
banyak rekan yang menyangka
saya hamil, ujar Retno.
Dua pekan kemudian, Danu
membawa Retno ke salah
seorang kerabatnya yang
juga dokter spesialis
penyakit dalam. Hasil
diagnosis kerabatnya itu
pun sama: Retno hanya
menderita gastroartritis.
Karena
tak ada gejala membaik,
Retno mencoba pengobatan
alternatif. Sambil mengkonsumsi
obat dokter, ia juga mengasup
herbal. Sayang, sebulan
mengkonsumsi herba itu
tak juga mengurangi derita
Retno. Ia pun mencoba
pengobatan alternatif
berupa terapi aura. Hasilnya
sama, tak ada perubahan
berarti.
Retno
kembali berkonsultasi
dengan dokter klinik di
tempatnya bekerja. Dokter
menyarankan untuk menemui
salah seorang dokter spesialis
penyakit dalam lainnya
di rumahsakit tempat ia
memeriksakan diri pertama
kali. Karena penasaran,
akhirnya Retno menuruti.
Pada Mei
2005, Retno menemui dokter
yang disarankan itu. Ia
pun menceritakan keluhan
dan aneka pengobatan yang
tak kunjung menyembuhkan
penyakitnya. Sang dokter
akhirnya menyarankan untuk
dilakukan endoskopi. Setelah
dibius, sebuah kamera
mikro dimasukkan ke mulut
Retno. Secara perlahan
kamera itu menyusuri kerongkongan.
Dibakar
Ketika
kamera mencapai lambung,
dokter melihat kejanggalan.
Pada dinding lambung terdapat
beberapa benjolan. Pada
lambung istri Anda terdapat
polip, kata Danu menirukan
ucapan dokter. Menurut
dr Arijanto Jonosewojo
SpPD, spesialis penyakit
dalam RS Dr Soetomo, Surabaya,
polip lambung semacam
tumor. Seperti halnya
tumor, polip merupakan
pertumbuhan sel dinding
lambung (mukosa) yang
abnormal. Penyebabnya
belum jelas. Kemungkinan
besar disebabkan faktor
genetik, katanya.
Polip
menyebabkan produksi asam
lambung meningkat. Akibatnya,
perut kembung. Dalam jangka
waktu tertentu, polip
dapat berubah menjadi
kanker. Oleh sebab itu
harus segera ditangani.
Pada tahap awal, pasien
diberi obat-obatan untuk
meningkatkan kekebalan
tubuh sehingga mematikan
sel tumor.
Jika sudah
membesar, polip harus
dibakar. Itulah yang ditawarkan
dokter kepada Retno. Meski
mulanya ngeri, akhirnya
Retno menyanggupi. Pada
Juni 2005, ia kembali
menemui sang dokter. Setelah
dibius, kamera mikro dan
alat pembakar berupa batang
elastis sebesar sapu lidi
dimasukkan ke dalam lambung
melalui mulut. Ujung alat
berbahan logam yang dipanaskan.
Kemudian, ujung alat itu
disentuhkan satu per satu
pada benjolan-benjolan
di dinding lambung hingga
luruh.
Operasi
itu berjalan singkat,
hanya 15 menit. Setelah
siuman, Retno diperbolehkan
pulang. Agar benar-benar
sembuh, Retno dibekali
3 obat berupa tablet dan
1 obat cair. Obat tablet
dikonsumsi 3 kali sehari
masing-masing 1 tablet;
obat cair masing-masing
1 sendok makan. Selama
penyembuhan, Retno mesti
disiplin mengkonsumsi
obat. Jika luput, terapi
mesti dilakukan dari awal.
Ia pun harus berpantang
makanan yang menghasilkan
gas saat dicerna di lambung,
seperti kubis, daun singkong,
cokelat, dan keju.
Setiap
dua pekan, Retno memeriksakan
diri. Tak terasa, delapan
bulan sudah wanita kelahiran
Bogor itu menjalani proses
penyembuhan. Selama itu
pula ia terus-menerus
mengkonsumsi obat-obatan
kimia. Namun, kesembuhan
tak juga menghampiri.
Buktinya saya harus minum
obat terus. Berarti lambung
saya belum sembuh, katanya.
Pada Maret
2006, ia membaca Trubus
yang memuat artikel tentang
khasiat jeli teripang
untuk mengobati penyakit
lambung. Karena berharap
sembuh, Retno pun menghubungi
salah satu agen dan memesan
jeli teripang. Jeli gamat-sebutan
teripang di Malaysia-itu
dikonsumsi 3 kali sehari
masing-masing 1 sendok
makan. Khawatir menimbulkan
efek buruk, Retno berhenti
mengkonsumsi obat dokter.
Tiga hari
mengkonsumsi jeli teripang,
kondisi tubuh Retno mulai
membaik. Badan saya lebih
fit dan tidur lebih nyenyak,
katanya. Keesokan harinya
Retno memeriksakan diri.
Saat diperiksa, dokter
menyatakan kondisi lambungnya
sudah membaik. Padahal,
pada pemeriksaan sebelumnya,
tak satu pun komentar
itu terucap dari sang
dokter. Ia pun tak dianjurkan
lagi untuk memeriksakan
diri. Untuk berjaga-jaga,
dokter hanya meresepkan
satu jenis obat.
Antiangiogenesis
Keampuhan
gamat mengusir tumor telah
dibuktikan Tong Y, dkk,
dari Divisi Farmakologi
Antitumor, State Key Laboratory
of Drug Research, Shanghai
Institute of Materia Medica,
Chinese Academy of Sciences,
Shanghai, Cina. Tong mengisolasi
saponin sulfat dari teripang
Pentancta quadrangulari
yang disebut philinopside
A. Dengan menyuntikkan
2-10 mikroliter philinopside
A pada aorta tikus, sanggup
mencegah pembentukan pembuluh
darah mikro baru (angiogenesis)
pada sel tumor. Akibatnya,
sel tumor tidak mendapat
pasokan nutrisi sehingga
sel urung berkembang dan
akhirnya mati. Hasil itu
membuktikan bahwa philinopside
A pada teripang berpotensi
sebagai antitumor.
Nun di
Rusia, Popov AM, periset
Pacific Institute of
Bioorganic Chemistry,
Far East Division of the
Russian Academy of Sciences,
Vladivostok, Rusia, juga
meneliti khasiat teripang
mengatasi tumor. Ia membandingkan
efek sitotoksik antara
teripang dan ginseng.
Pada pemberian 5-20 mikrogram
ginsenosida-karbohidrat
pada ginseng-tidak memberikan
efek sitotoksik yang signifi
kan. Sedangkan glikosida
dari teripang seperti
echinosida A dan B, holothurin
A dan B, holotoxin A1,
dan curcumariosida G1,
mempunyai aktivitas sitotoksik
signifi kan. Hal itu mengukuhkan
khasiat teripang yang
berpotensi antitumor dan
antikanker.
Beragam
senyawa aktif yang terkandung
dalam teripang itulah
yang berperan mengatasi
polip lambung alias tumor
lambung. Dengan mengkonsumsi
ekstrak teripang secara
rutin, Retno Dewi Kurniati
akhirnya sembuh dari derita
polip lambung. (Imam
Wiguna/Peliput: Vina Fitriani)

Artikel
Trubus Tentang Khasiat
Teripang / Gamat / Sea
Cucumber Lainnya
New Page 1
|